Sanksi AS Berat, Namun Tidak Membuat Iran Menyerah

Amerika Serikat telah mengumumkan penjatuhan kembali sanksi ekonomi kepada Iran pada awal Mei dan juga akan menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Presiden Iran Hassan Rouhani mengakui dijatuhkannya kembali sanksi berdampak buruk bagi masyarakat Iran.

“AS tidak akan pernah mencapai tujuannya terlepas dari sanksi yang berdampak buruk bagi standar kehidupan warga Iran,” ucap Rouhani di situs resmi pemerintah Iran, seperti dilansir dari kantor berita Sputnik, Selasa 25 Desember 2018.

“Tujuan utama dari konspirasi dan sanksi AS adalah tekanan, agar Republik Islam Iran berlutut dan menyerah,” lanjut dia. Rouhani yakin pemerintah Iran yang didukung parlemen, tokoh agama dan masyarakat akan bertahan menghadapi berbagai kesulitan.

Menurut Rouhani, segala bentuk sanksi dari AS terhadap Iran telah “melanggar seluruh perjanjian internasional.” Salah satunya adalah perjanjian nuklir 2015 bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Di bawah JCPOA, Iran membatasi program nuklir mereka dan sebagai gantinya, Washington meringankan sanksi terhadap Teheran. Namun Presiden AS Donald Trump menilai JCPOA tidak adil dan memutuskan menarik diri.

“Mereka (AS) ingin warga Iran kehilangan harapan untuk masa depan. Mereka juga ingin meyakinkan masyarakat Iran bahwa pemerintahan kami tidak dapat mengontrol situasi dalam negeri,” sebut Rouhani.

Pekan lalu, Rouhani mengatakan “hari-hari kediktatoran AS telah berakhir, dan Washington tidak akan bisa lagi mendikte hubungan antar negara di kawasan.”

Sementara Pemimpin Agung Iran Ayatollah Khamenei belum lama ini “memerintahkan” Bank Sentral Iran untuk mendorong nilai mata uang rial.

“Bank Sentral Iran akan melakukan yang terbaik untuk memperkuat rial dan mendukung semua bank di negeri ini,” kata Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati.